“Saya mau bikin website untuk bisnis.”
Kedengarannya sederhana.
Sampai pertanyaan berikutnya muncul:
“Tapi website-nya harus seperti apa?”
Harus ada katalog?
Bisa checkout?
Bisa booking?
Bisa bayar?
Atau sebenarnya cukup menampilkan informasi bisnis dan tombol WhatsApp?
Di sinilah banyak orang mulai bingung.
Karena semua itu sama-sama disebut website, tetapi pekerjaan yang dilakukan di dalamnya bisa sangat berbeda.
Jadi, daripada bertanya:
“Website mana yang paling bagus?”
lebih baik mulai dengan pertanyaan yang berbeda:
“Apa yang harus bisa dilakukan pelanggan ketika mereka datang ke website saya?”
Website Sebenarnya Dibuat untuk Apa?
Website pada dasarnya adalah alat.
Alat untuk memberikan informasi, membangun kepercayaan, mendapatkan calon pelanggan, menjual produk, menerima pemesanan, atau melakukan berbagai hal lainnya.
Karena tujuan setiap bisnis berbeda, website yang dibutuhkan juga tidak selalu sama.
Bayangkan tiga bisnis berikut.
Bisnis pertama hanya ingin calon pelanggan mengenal mereka.
Bisnis kedua ingin pelanggan bisa membeli produk secara langsung.
Bisnis ketiga ingin pelanggan bisa memilih layanan dan tanggal sebelum melakukan pemesanan.
Ketiganya membutuhkan website.
Tetapi website yang dibutuhkan jelas berbeda.
1. Website Informasi: “Saya Ingin Orang Mengenal Bisnis Saya”
Jenis pertama adalah website yang fokus utamanya memberikan informasi mengenai sebuah bisnis.
Sering kali orang menyebutnya website company profile atau website bisnis.
Misalnya sebuah agency memiliki website yang berisi:
- Informasi tentang bisnis.
- Layanan yang ditawarkan.
- Portfolio.
- Testimonial.
- Informasi kontak.
- Artikel atau blog.
Pengunjung datang, melihat informasi, memahami bisnis tersebut, kemudian mungkin menghubungi pemiliknya melalui WhatsApp atau formulir kontak.
Alurnya sederhana:
Datang → mengenal → percaya → menghubungi.
Website seperti ini tidak berarti website yang sederhana atau murahan.
Sebuah website informasi dapat memiliki banyak halaman, desain yang sangat detail, portfolio yang besar, blog, formulir, integrasi WhatsApp, dan berbagai fitur lainnya.
Perbedaannya adalah tujuan utamanya bukan melakukan transaksi secara otomatis di dalam website.
Contohnya Bisa Sangat Banyak
Website informasi cocok untuk banyak jenis bisnis.
Misalnya:
- Agency.
- Konsultan.
- Jasa profesional.
- Kontraktor.
- Travel.
- Fotografer.
- Restoran.
- Perusahaan.
Jika pelanggan terutama membutuhkan informasi sebelum menghubungi bisnis, website informasi mungkin sudah cukup.
2. Toko Online: “Saya Ingin Pelanggan Bisa Membeli”
Sekarang bayangkan sebuah toko pakaian.
Tujuannya bukan hanya membuat orang mengenal bisnis.
Pelanggan harus bisa melakukan sesuatu yang lebih jauh.
Mereka ingin melihat produk, memilih ukuran, memilih warna, membeli, dan menyelesaikan pembayaran.
Alurnya menjadi lebih panjang:
Lihat produk → pilih produk → pilih varian → keranjang → checkout → pembayaran → pesanan diproses.
Di sinilah kita mulai membutuhkan toko online.
Website tidak lagi hanya menjadi tempat membaca informasi.
Website menjadi tempat terjadinya proses penjualan.
Yang Terlihat Sederhana di Depan, Bisa Cukup Kompleks di Belakang
Bagi pelanggan, toko online mungkin terlihat sederhana.
Mereka hanya melihat foto produk, harga, tombol beli, dan halaman checkout.
Tetapi bisnis mungkin perlu mengelola:
- Produk.
- Harga.
- Varian.
- Stok.
- Pesanan.
- Data pelanggan.
- Pembayaran.
- Pengiriman.
- Notifikasi.
Semakin banyak proses yang ingin dilakukan secara otomatis, semakin banyak pula kebutuhan sistem di belakang website.
Itulah salah satu alasan mengapa toko online biasanya membutuhkan pengembangan yang berbeda dari website informasi.
3. Website dengan Sistem Booking: “Saya Ingin Pelanggan Bisa Memesan”
Sekarang bayangkan bisnis travel.
Pelanggan mungkin tidak membeli sebuah barang yang dikirim ke rumah.
Mereka ingin memesan sebuah layanan.
Mereka mungkin perlu memilih:
- Paket perjalanan.
- Tanggal.
- Jumlah peserta.
- Layanan tambahan.
Setelah itu, mereka ingin melakukan pemesanan.
Di sinilah sistem booking mulai diperlukan.
Alurnya bisa terlihat seperti:
Pilih layanan → pilih tanggal → isi data → booking → konfirmasi.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami.
“Website booking” tidak selalu berarti sistem yang rumit.
Booking Bisa Sesederhana Apa?
Untuk bisnis kecil, proses booking mungkin hanya seperti ini:
Pelanggan melihat paket di website.
Mereka mengisi formulir.
Kemudian data tersebut dikirim ke WhatsApp atau email pemilik bisnis.
Admin memeriksa dan mengonfirmasi secara manual.
Itu sudah bisa disebut sebagai proses booking.
Di tingkat berikutnya, website bisa memungkinkan pelanggan memilih layanan dan tanggal terlebih dahulu.
Admin kemudian menerima permintaan tersebut dan melakukan konfirmasi.
Pada sistem yang lebih kompleks, website bahkan dapat:
- Memeriksa ketersediaan secara otomatis.
- Mengelola jadwal.
- Menghitung harga.
- Mencatat booking.
- Menerima pembayaran.
- Mengirim konfirmasi otomatis.
- Menyediakan dashboard untuk pengelola.
Ketiganya sama-sama bisa disebut booking.
Tetapi tingkat kebutuhannya sangat berbeda.
Booking dan Pembayaran Itu Bukan Hal yang Sama
Ini juga penting.
Booking tidak selalu membutuhkan pembayaran online.
Sebuah travel bisa menerima permintaan booking terlebih dahulu, kemudian pelanggan melakukan pembayaran melalui cara lain.
Sebaliknya, sebuah website bisa menerima pembayaran tanpa memiliki sistem booking.
Jadi:
Booking berkaitan dengan proses pemesanan.
Pembayaran berkaitan dengan proses transaksi.
Keduanya bisa digabungkan, tetapi tidak harus selalu ada bersamaan.
Jadi, Haruskah Memilih Salah Satu?
Tidak.
Website tidak harus masuk ke dalam satu kotak.
Sebuah website travel misalnya dapat memiliki:
Website informasi + WhatsApp.
Atau:
Website informasi + sistem booking.
Atau:
Website informasi + booking + pembayaran.
Sebuah bisnis juga dapat memiliki website yang menggabungkan informasi dengan toko online.
Jadi tiga jenis tadi lebih tepat dipahami sebagai fungsi utama, bukan kategori yang benar-benar terpisah.
Yang Menentukan Bukan Jenis Bisnisnya, Tetapi Kebutuhannya
Nama industrinya tidak otomatis menentukan jenis website.
Misalnya dua bisnis sama-sama merupakan travel.
Travel pertama hanya ingin menampilkan paket wisata, gallery, testimonial, dan kontak.
Travel kedua ingin pelanggan memilih tanggal dan melakukan booking secara online.
Travel ketiga ingin pelanggan memilih paket, melihat ketersediaan, melakukan pembayaran, dan mendapatkan konfirmasi otomatis.
Ketiganya adalah bisnis travel.
Tetapi kebutuhan websitenya berbeda.
Jadi pertanyaannya bukan:
“Saya bisnis travel. Berarti harus punya website booking?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Apa yang perlu dilakukan pelanggan saya ketika mereka datang ke website?”
Seberapa Kompleks Website yang Anda Butuhkan?
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap sebuah fitur hanya memiliki dua pilihan:
“Ada” atau “tidak ada.”
Padahal kenyataannya ada banyak tingkat kompleksitas.
Misalnya sistem booking.
Level sederhana:
Pengunjung mengisi formulir, kemudian admin menerima permintaan dan menghubungi pelanggan.
Level menengah:
Pengunjung memilih layanan, tanggal, dan data tertentu sebelum mengirim booking.
Level kompleks:
Website memeriksa ketersediaan secara otomatis, mengelola jadwal, menerima pembayaran, mengirim notifikasi, dan menyediakan pengelolaan booking.
Semakin banyak pekerjaan yang ingin dilakukan website secara otomatis, semakin kompleks pula sistem yang dibutuhkan.
Website Tidak Harus Langsung Dibuat Sangat Kompleks
Ini sangat penting terutama untuk bisnis yang baru mulai.
Anda tidak selalu harus membuat semua fitur sejak hari pertama.
Misalnya sebuah bisnis travel baru saja membuat website.
Pada tahap awal, mungkin cukup dengan:
Website informasi + tombol WhatsApp.
Setelah jumlah pelanggan meningkat, bisnis mulai membutuhkan formulir booking.
Kemudian mulai membutuhkan pemilihan tanggal.
Ketika transaksi semakin banyak, mungkin dibutuhkan sistem pembayaran dan otomatisasi.
Website dapat berkembang mengikuti kebutuhan bisnis.
Memulai dari kebutuhan yang benar-benar diperlukan sering kali lebih masuk akal daripada membangun semuanya sekaligus.
Jangan Membeli Fitur Hanya Karena Fitur Itu Ada
Ada godaan ketika membuat website untuk memasukkan sebanyak mungkin fitur.
Login pelanggan.
Dashboard.
Booking.
Pembayaran.
Chat.
Notifikasi.
Dan berbagai fitur lainnya.
Semakin banyak fitur memang terdengar semakin hebat.
Tetapi website dengan fitur terbanyak belum tentu website yang paling baik.
Bayangkan sebuah bisnis kecil yang sebenarnya hanya membutuhkan:
Informasi → Portfolio → WhatsApp.
Jika bisnis tersebut dipaksa menggunakan sistem booking, akun pelanggan, dashboard, dan pembayaran online padahal tidak dibutuhkan, hasilnya justru bisa menjadi lebih mahal dan lebih rumit untuk dikelola.
Sebaliknya, jika pelanggan memang perlu memilih jadwal dan melakukan pemesanan, website informasi sederhana mungkin tidak cukup.
Jadi jangan mulai dari pertanyaan:
“Fitur apa yang bisa dimasukkan?”
Mulailah dari:
“Apa yang harus bisa dilakukan pelanggan?”
Coba Lakukan Tes Sederhana Ini
Bayangkan pelanggan Anda baru saja membuka website.
Apa yang paling penting yang ingin mereka lakukan?
Jika mereka hanya perlu mengenal bisnis Anda, melihat layanan, melihat portfolio, lalu menghubungi Anda:
Website informasi mungkin sudah cukup.
Jika mereka perlu memilih produk dan membeli secara langsung:
Anda mungkin membutuhkan toko online.
Jika mereka perlu memilih layanan, tanggal, atau waktu sebelum melakukan pemesanan:
Anda mungkin membutuhkan sistem booking.
Jika kebutuhan Anda lebih dari satu:
Website dapat menggabungkan beberapa fungsi tersebut.
Contoh Nyata: Tiga Bisnis, Tiga Kebutuhan
Agency Website
Sebuah agency ingin menunjukkan layanan, portfolio, testimonial, dan informasi kontak.
Pengunjung membaca informasi lalu menghubungi agency untuk berdiskusi.
Kebutuhan utama: website informasi.
Toko Pakaian
Sebuah toko pakaian ingin pelanggan melihat produk, memilih ukuran, melakukan checkout, dan membayar.
Kebutuhan utama: toko online.
Travel
Sebuah travel ingin pelanggan melihat paket perjalanan, memilih tanggal, mengirim permintaan booking, dan mendapatkan konfirmasi.
Kebutuhan utama: website informasi + sistem booking.
Jika travel tersebut juga ingin menerima pembayaran online dan mengelola ketersediaan secara otomatis, kebutuhan sistemnya tentu menjadi lebih kompleks.
Bagaimana Kalau Bisnis Anda Berada di Tengah-Tengah?
Itu sangat normal.
Misalnya Anda memiliki restoran.
Anda mungkin hanya membutuhkan website yang menampilkan menu, lokasi, jam operasional, dan tombol reservasi.
Belum tentu membutuhkan toko online.
Belum tentu membutuhkan sistem booking kompleks.
Atau Anda memiliki bisnis rental kendaraan.
Anda mungkin ingin pelanggan melihat kendaraan, memilih tanggal, mengirim permintaan rental, kemudian admin melakukan konfirmasi.
Itu sudah berbeda dari website informasi biasa, tetapi belum tentu membutuhkan sistem otomatis yang sangat kompleks.
Kebutuhan website dapat berada di antara berbagai bentuk tersebut.
Jadi, Website Mana yang Cocok untuk Bisnis Anda?
Daripada memilih berdasarkan nama atau tren, mulai dari kebutuhan pelanggan.
Apakah pelanggan hanya perlu mendapatkan informasi?
Mulailah dari website informasi.
Apakah pelanggan perlu membeli produk?
Pertimbangkan toko online.
Apakah pelanggan perlu memilih layanan, tanggal, atau jadwal?
Pertimbangkan sistem booking.
Apakah pelanggan membutuhkan beberapa hal sekaligus?
Gabungkan fungsi yang memang diperlukan.
Dan jika bisnis Anda masih berkembang, Anda tidak harus membangun semuanya sekaligus.
Website yang Baik Bukan yang Fiturnya Paling Banyak
Ini mungkin bagian paling penting dari seluruh pembahasan.
Website yang baik bukan website yang memiliki paling banyak tombol, fitur, halaman, atau sistem.
Website yang baik adalah website yang membuat pelanggan dapat melakukan apa yang memang mereka butuhkan dengan cara yang mudah.
Jika pelanggan hanya ingin mencari informasi dan menghubungi Anda, jangan membuat mereka melewati lima langkah hanya untuk menemukan nomor WhatsApp.
Jika pelanggan ingin membeli produk, berikan proses pembelian yang jelas.
Jika pelanggan ingin melakukan booking, buat proses pemesanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Fitur seharusnya mengikuti kebutuhan, bukan sebaliknya.
Jangan Mulai dari “Website Apa yang Harus Saya Buat?”
Mulailah dari pertanyaan yang lebih sederhana.
“Apa yang ingin saya lakukan dengan website ini?”
Lalu lanjutkan:
“Apa yang perlu dilakukan pelanggan saya?”
Dari sana, barulah kita dapat menentukan fitur yang dibutuhkan.
Jika kebutuhan berubah, website juga dapat berkembang.
Karena pada akhirnya, website bukan sekadar halaman yang terlihat bagus di internet.
Website adalah alat untuk membantu bisnis dan pelanggan melakukan sesuatu.
Dan website yang tepat adalah website yang membuat sesuatu tersebut menjadi lebih mudah.